Makalah

Apakah Mu’jizat Itu ?

Oleh : Nur Huda*

index

A.Pengertian mukjizat

Kata mukjizat dalam kamus besar bahasa Indonesia sebagai”kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan manusia”.[1]Pengertian ini tentu tidak akan sama dengan pengertian yang dikemukakan oleh agama islam yaitu dilihat dari tinjauan bahasa arab” kata mukjizat pada hakikatnya terbentuk dari kata bahasa arab a’jaza (melemahkan atau menjadikan tidak mampu”. Lalu melalui proses pentafsiran kata tersebut menjadi mu’jiz yang artinya orang yang melemahkan, kemudian bila kemampuannya untuk melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkamkan lawan, maka ia dinamai mu’jizatun, tambahan ta’ marbutoh pada akhir kata ,mengandung makna mubalaghoh (superlatif) .[2].Jadi bias diambil pemahaman bahwa mukjizat adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada seseorang yang mana peristiwa itu membuat orang terbungkam ketika  melihat peristiwa tersebut dan kejadian tersebut tidak bias dinalar oleh rasio.

Sementara itu mukjizat didefinisikan oleh pakar agama islam antara lain, sebagai”sesuatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepa da yang ragu untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu.[3] Oleh karna itu mukjizat-mukjizat yang diberikan allah kepada nabi-nabinya tidak akan sama.Jadi bisa di ambil kesimpulan bahwa setiap nabi pasti memiliki mukjizat sendiri-sendiri dan mukjizat tersebut merupakan senjata untuk melakuklan penyiaran agama islam.Setelah mamahami tentang pengertian mukjizat dari berbagai aspek , tentu kita perlu mengetahui bentuk-bentuk mukjizat secara histories, akan tetapi dengan begitu banyaknya bentuk-bentuk mukjizat rasanya tidak akan cukup untuk dibahas semunya, oleh karna itu, untuk mengetahui bentuk-bentuk mukjizat kita ambil secara garis besarnya.

Secara garis besar mukjizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang bersifat material, indrawi, lagi tidak kekal dan mukjizat imaterial logis lagi dapat dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat-mukjizat nabi dahulu merupakan jenis mukjizat yang pertama, sementara mukjizat jenis kedua adalah mukjizat dari Rasulullah saw yaitu Al-Quran.[4] Mukjizat ini mempunyai sifat yang  fleksibel dan selalu terjaga kemurniannya sepanjang masa, dikarnakan mukjizat Al-Quran dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana dan kapanpun.[5]

Untuk membahas lebih lanjut tantang kemukjizatan Al-Quran tentu kita perlu memahami betul tentang Al-Quran dari segi pengartian, cara nabi manerimanya, cara pemeliharaannya dan lain-lain.

B.Pengrtian Al-Quran

Al-Quran sabagai kitab suci terakhir yang dari allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad lalu disampaikan kepada umat manusia yang dijadikan pedoman hidup dan rujukan dari cabang-cabang ilmu.Al-Quran menurut kemasyhurannya berasal dari kata”qoroa” yang berarti bacaan[6] pendapat ini dikuatkan oleh surat Al-Qiyyamah yaitu”Sesungguhnya kami yang mengumpulkannya (di dalam) dan membuatmu pandai mambacanya lalu ikutilah bacaanya itu”         

ada juga yang mengatakan bahwasannya pemberian nama al-quran merupakan nama yang langsung diberikan oleh allah[7].Pendapat in mengambil rujukan surat al-baqorah ayat 185 yaitu”bulan ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)

Menurut Jalaludin Asy syuyuthi yang dikutip oleh drs moh chadziq charisma memberikan pengrtian bahwa sannya alquran adalah kala mullah atau firman allah , diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk melemahkan orang-orang yang menentangnya, sekalipun dengan surat yang terpendek , membaca termasuk ibadah[8]

Dari sebagian pandapat-pendapat tersebut, bisa diambil pemahaman , bahwasannya diturunkan kepada nabi secara berangsur-angsur lalu disampaikan kepada manusia, yamg berfungsi untuk menjawab sebuah permasalahan-permasalahan tentang agama yang dilontarkan oleh kaum-kaum kafir, selain hal tersebut al quran juga digunakan sebagai sumber hokum yang sifatnya permanen dan sudah tidak bias diganggu gugat tentang hokum-hukum yang telah ditentukan oleh alquran(hukum allah).sementara itu nabi berperan sebagai mediator untuk memberikan penjelasan tantang alquran .

C.Pemeliharaan Alquran

Alquran merupakan satu-satunya kitab allah yang masih terpelihara kemurniannya, sejak zaman nabi sampai sekarang belum ada seorangpun yang mampu meniru alquran, baik dari segi bahasa, sastra dan lain-lain yang terkandung dalam alquran, itu merupakan salah satu kemukjizatan alquran, tentu semua itu juga melalui proses dalam pemeliharaannya,secara garis besar proses-proses tersebut berawal dari masa Nabi, Abu bakar dan Ustman bin affan, yang mana akan kami cerirakan secara singkat.

a.pada masa nabi

Allah menyatakan; kami yang menurunkan alquran dan kami pula yang memeliharanya,” (QS.XV:9) dalam kaitan ini sejarah mencatat, ada dua cara yang diterapkan nabi dalam memelihara alquran, hafalan dan tulisan[9].jadi setiap ayat yang turun, langsung dicatat oleh penulis yang sudh ditunjuk oleh nabi dan dihafalkan oleh para sahabat.dalam hal ini tentunya nabi membutuhkan asisten husus yang bertugas untuk mencatat wahyu-wahyu yang turun, para penulis yang dipercaya nabi adalah para sahabat, kholifah empat, zyd bin tsabit abdillah bin mas’ud, ubayya bin ka’ab dan lain-lain sehingga jumlah mereka 43 orang.[10]merka mencatat setiap wahyu yang turun dengan persis sebagai mana disampaikan nabi , tidak sedikit pun mereka rubah, dan mereka juga mengikuti pengarahan yang telah disampaikan nabi.

Penempatan ayat dan urut-urutannya serta susunan surat-surat didalam mushaf sebagai mana yang kita jumpai sekarang, adalah menurut petunjuk nabi(taukif).sehubungan dengan ini ahmad juga meriwayatkan dari                      ustman bin abi al-ash yang menjelaskan ayat innallaha ya’muru bil a”dli wal ihsan, ditempat ini (maksudnya pada urutan ke-90 dari ayat-ayat al nahl) .[11]

Jadi melalui dua cara sebagaimana digambarkan di atas’ maka alquran sampai sekarang terpelihara keorisinalannya, sedikit pun tidak berubah , baik bunyi maupun susunan kata dan kalimat-kalimatnya.[12] Alquran yang kita jumpai sekarang adalah seperti apa yang dulu diterima nabi , namun dari segi teknis penulisan huruf-hurufnya jelas sudah dimodifikasi contohnya adanya harokat, titik dan lain sebagainya.dai fakta

Sejarah yang dikemukakan itu,jelaslah keorisinilan dan kemutawatirannya, sehingga tak ada alasan bagi siapa pun untuk mengeklaim bahwa al-quran tidak mutawatir atau tidak orisinel.[13]

b.pada masa abu bakar

Setelah nabi wafat pada tahun 11 H(635 M), Abu Bakar diangkat untuk ,menggantikan beliau, yaitu menjadi kholifah (kepala negara).tak lama kemudian sebagian kaum muslimin banyak yang murtad.mereka tak mau membayar pajak, selain itu muncul beberapa nabi palsu yang mamberontak terhadap pemerintah.[14]

Akhirnya terjadi pertempuran yamg memakan korban begitu banyak dari kalangan kaum muslim, sekitar 70 sahabat yang hafal alquran  gugur dalam pertempuran.dengan makin berkurangnya para penghafal dikernakan gugur dalam peperangan, dengan melihat kondisi tersebut umar bin khottob usul kepada abu bakar untuk membentuk mushaf. Pada awalnya usulan dari umar ditolak, setalah melalui berbagai diskusi, akhirnya usulan tersebut diterima.tygas yang amat mulia inin di percayakan kepada zyd bin stabit.

Jadi yang dijadikan patokan pada masa abu bakar dalam menghimpun alquran ialah hafalan dan tulisan sekaligus. Dengan meggunakan pedoman tersebut akhirnya zyd berhasil menghimpun alquran dalam bentuk, yang kemudian diberi nama “mushaf” .[15]

b.Pada masa usman

Satalah malalui tahap-tahap dilakukan, lalu menginjak tahap yang ke-3 ini bukan sekedar menyalin mushaf abu bakar melainkan sekaligus menyatukan penulisan ayat-ayat yang diperselisihkan bacaanya.usman pernah menegaskan”jika timbul perbedaan pandapat antara kalian dengan zyd bin stabit dalam penulisan alquran, maka tulislah dalam bahasa quraisy sebab alquran diturunkan sesuia bahasa mereka. .[16]Jadi dal;am tahap ini merupakan tahap penyempurna, dan penyatuan tehadap bahasa alquran yang terbagi atas tujuh bacaan.

Pada masa inilah alquran diberi tanda baca seperti baris(harakat), titik, dan lain sebagainya.disanping itu, mereka juga mambagi alquran menjadi 30 juz sebagai mana yang telah kita temukan sekarang.setiap surat dicantumkan namanya diawal, serta di beri pula tanda khomsun pada setiap lima ayat, tanda a’syara pada setiap sepuluh ayat

Dan lain sebagainya. .[17]

Jadi semua perubahan pada masa ini(ustman) semata-mata untuk memudahkan kaum muslimin didalam membaca dan memahami alquran agar tidak menimbulkan salah pemahaman dalam membedakan huruf-hurufnya.dengan perkataan lain, alquran yang sekarang kita pegang merupakan bentuk penyusunan yang dilakukan oleh ustman bin affan dan tidak sedikit pun para tabi’in, dan generasi seterusnya sampai generasi sekarang mengutak-atik isi mushaf ustman.

D.Bukti Kemukjizatan Al-Quran

Al-Quran merupakan kitab suci yamg diturunkan kepada nabi akhiruzaman, tentunya di dalam Al-Quran memilik berbagai mukjizat yang melimpah . Al-Quran merupakan kitab terakhir sekaligus sebagai kitab penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya.oleh karna itu makna yang tersirat dalam kandungan a Al-Quran memiliki berbagai jawaban-jawaban tentang kehidupan ini sebagai mana firman Allah  “ apakah tidak cukup bagi mereka bahwa kami telah menurunkan kepadamu kitab(Al-Quran), yang dibacakan kepada mereka? Sungguh , dalam (Al-Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”(QS.29:51)

Bukti lainnya adalah bahwasannya Al-Quran kitab allah yang tdak bisa ditiru oleh manusia baik dari segi sastra, balaghoh dan runtutan kata-katanya.Buktinya, secara historis dari sejak pertama kali Al-Quran diturunkan sampai menginjak abad sekarang, belum ada satupun yang mampu menandingi Al-Quran dari berbagai aspeknya.Sebagai mana firman Allah” katakanlah,” sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Quran ini, mereka tidak akn dapat membuat yang serupa dengannya, sekali pun mereka saling membantu satu sama lain.”(QS.17:88) 

Dalam pembuktian kekuasaan dan kemukjizatan Al-Quran allah mengajukan dua pernyataan yaitu:

1.”Bahwasannya kami “(Allah yang maha kuasa) telah mawahyukan kepada Mu (hai…! Muhammad) ”Al-Kitab untuk Mu” yang sangat indah bagi seorang nabi yang ”ummi” tidak terpelajar, tidak dapat memebaca atau pun menilis.seorang yang tidak dapat menuliskan namanya sendiri.Thomas Carlily yang dikutip oleh Ahmad Deedat memberikan kesaksian tentang kualifikasi pendidikan nabi muhammad ,” satu keadaan yang tidak boleh dilupakan.” Dia tidak pernah bersekolah tidak ada sama sekali.” .[18]Allah SWT sendiri memberikan kesaksian bahwa  nabi Muhammad tidak pernah mengarang isi kitab suci Al-Quran” Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum(Al-Quran) dan engkau tidak pernah menulis suatu kitabdengan tngan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.”  

Dari apa yang dijelaskan di atas mungkin bisa dijadikan renungan dalam diri seseorang, secara rasio apa yang ada dalam kalamullah , ini menandakan bahwa Allah swt mengajak kita untuk berfikir. Andaikan nabi seseorang yang mngenyam pendidikan , bisa jadi adanya Al-Quran ciptaan nabi, akan tetapi nabi adalah seorang yang “ummi” maka dengan itu, bahwasannya Al-Quran bukanlah ciptaan nabi melainkan mukjizat dari Allah swt

Dengan demikian, jika pretense yang lemah mengenai penciptaan Al-Quran dijadikan dasar oleh para orang-orang kafir untuk menolak kebenaran risalah nabi Muhammad maka ia pantas untuk ditinggalkan[19].

2. Al-Quran membawa bukti eviden  dari sang pencipta. Dia menantang orang-orang skeptis untu mencari dan menemukan kelemahan Al-Quran jika itu memang ada. [20].sebagai mana feirman Allah swt ”Maka tidakkah mereka menghayati  (mendalami) Al-Quran? Sekiranya (. Al-Quran) itu bukan dari Allah ,pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentngan di dalamnya”

Dari bukti kedua ini, sekali lagi allah mengajak kita untuk berfikir . bahwasannya Al-Quran adalah sumber utama dari berbagai hukum, memang benar jika di dalam kandungan Al-Quran tidak ada aseorang pun yang berdebat. Berbeda dengan kerya-karya manusia yang sifatnya cabang, tentu akan menimbulkan berbagai problem-problem terutama tentang perbedaan sebuah pemikiran dari masing-masing ilmuwan.

Jadi hakikat dalam Al-Quran adalah pokok-pokok  dari berbagai ilmu sementara yang lainnya hanyalah sebuah cabang yang mengembangkan dari kandungan Al-Quran untuk itu Al-Quran tidaklah mungkn buatan manusia.

            * Penulis adalah salah satu santri putra ponpes Darul ‘Ulum wal Hikam Yogyakarta Mahasiswa Prodi PAI Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga

  

 

 



Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Flag Counter
%d blogger menyukai ini: