Artikel

MARAKNYA PENGGUNAAN BAHASA ALAY DALAM JEJARING SOSIAL DI KALANGAN REMAJA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

            Dewasa ini ,bahasa merupakan instrumen terpenting dalam kehidupan manusia.Manusia tidak bisa hidup tanpa bahasa,baik secara lisan maupun tulisan .Bahasa sebagai alat komunikasi sosial dalam kehidupan manusia. Bahasa adalah simbol–simbol yang digunakan untuk menyatakan  gagasan, ide dan perasaan orang kepada orang lain.[1]Sejak lahir manusia sudah diajarkan berbahasa dalam  kehidupan sehari-harimulai saat bagun pagi-pagi sampai menginjakmalam waktu beristirahat, manusia tidak pernah lepas  memakai bahasa. Maka bahasa sangatlahberguna bagi manusia untuk melakukan aktifitasnya.[2]Bahasa lisanmerupakan bahasa yang interaksinya secara langsung. Adanya bahasa lisan dapatdikaitkan dengan berbicara karena merupakan simbol dari bahasa lisan. Sedangkan bahasa tulisan merupakan bahasa yang digunakan secara tidak langsung ,seperti  yang terdapat pada jejaring sosial bahasa tulisan melalui jejaring sosial yaitu situs pertemanan di facebook ataupun twitter.Pada zaman teknologi yang semakin maju ,mulailah bahasa lisan ataupun bahasa tulisan menjadi semakin naik daun terutama dalam hal gaya bahasa dijejaring  sosial.Istilah bahasa tersebut adalah bahasa alay yang banyak digunakan oleh para remaja. Berkaitan dengan jejaring sosial macam facebook ataupun twitter yang merupakan bahasa yang banyak  digunakan oleh manusia terutama kalangan remaja.Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan internet melalui jejaring sosial ini.

Di samping itu, perkembangan era globalisasi ini  yang menuntut anak remaja selalu up date juga disinyalir menjadi salah satu penyebab pesatnya penyebaran virus alay. Nggak alay, nggak gaul. Hal ini dipengaruhi juga oleh  semakin berkembangnya teknologi, terutama berkembangnya situs jejaring sosial, seperti facebook dan twitter .Dan semakin lama bahasa alay tersebut terus berkembang dan berganti tren. Istilah bahasa baru tersebut awalnya muncul pada tahun 2008,bahasa ini muncul dikalangan remaja, yang disebut dengan bahasa “Alay”. Kemunculannya dapat dikatakan fenomenal, karena cukup menyita perhatian. Bahasa baru ini seolah menggeser penggunaan bahasa Indonesia dikalangan segelintir remaja.[3] Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh kalangan remaja dan sudah terdengar norak dimasyarakat luas tapi masih saja digunakan para remaja untuk menulis dijejaring sosial,sehingga  perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi kesantunan berbahasa.Dari sejak lahir hingga kini,bahasa masih tetap terasa kesulitan untuk berbahasa yang indah dan santun.Modifikasi bahasa dalam bentuk alay ternyata membawa sinyal ancaman serius terhadap bahasa terutama dikalangan remaja.

Hal tersebut sangatlah memperhatinkan karena remaja adalah generasi bangsa apabila bahasa mereka alay ini semakin marak maka akan berdampak pada bahasa yang tidak baik dan kurang sopan sekaligus pertanda semakin merosotnya kemampuan berbahasa Indonesia di kalangan generasi muda.

Dalam dalil aqli yang di riwayatkan  Oleh Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr.

Allah   berfirman:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوااتَّقُوااللَّهَوَقُولُواقَوْلًاسَدِيدًايُصْلِحْلَكُمْأَعْمَالَكُمْوَيَغْفِرْلَكُمْذُنُوبَكُمْۗوَمَنيُطِعِاللَّهَوَرَسُولَهُفَقَدْفَازَفَوْزًاعَظِيمًا

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71][4]

Dari ayat diatas terlihat jelas bahwa Alloh memerintahkan kita berkata (berbahasa ) dengan benar,sehingga dapat disimpulkan bahwa bahasa alay merupakan bahasa yang tidak baik dan kurang benar karena secara tidak sadar bahasa alay dalam dunia maya ( jejaring sosial) akan dapat mempengaruhi terhadap dunia nyata terutama pada perkembangan bahasa indonesia yang baik dan benar dikalangan remaja .Dan dizaman sekarang kebutuhan akan berbahasa yang baik dan benar sangatlah diperlukan bagi warga negara indonesia , karena bahasa indonesia adalah bahasa nasional yang harus dipertahankan dan dilestarikan sebagai identitas bangsa  terutama untuk generasi selanjutnya . Hal tersebutlah yang membuat penulis tertarik untuk mengangkat judul  tentang “Maraknya Penggunaan Bahasa Alay Dalam Jejaring Sosial Dikalangan Remaja”sebagai kajian dalam pembahasan karya ilmiah ini. Maka dari itu, penulis berharap hal ini akan menjadi pengetahuan bagi khalayak umum agar dapat menilai fenomena berbahasa di kalangan remaja, sehingga dapat dijadikan sebagai media pembelajaran.

 

1.2 Rumusan masalah :

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, agar penelitian ini jelas  dan lebih terarah maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

1.Hal-hal apa sajakah yang melatarbelakangi munculnya bahasa alay dalam  jejaring sosial? 2.Bagaimana tanggapan masyarakat tehadap bahasa alay yang marak dalam jejaring sosial  dikalangan remaja ?

1.3 Tujuan Penelitian :

Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi dan tujuan mengenai :

1.untuk menjelaskan hal-hal yang melatarbelakangi munculnya bahasa alay dalam jejaring sosial.

2. Untuk mengetahui tanggapan masyarakat terhadap bahasa alay yang marak dijejaring sosial dikalangan remaja.

1.4 Kegunaan Penelitian

1. ManfaatTeoritis

Secara teori penelitianinidiharapkandapatmenambah manfaat ( khazanah )teori yang berhubungandenganpenggunaanbahasa Alay.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi :

a. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini dapat memberikan infomasi kepada masyarakat bahwa seiring perkembangan zaman bahasa yang baik dan sesuai tatanan berbahasa bukan seperti bahasa alay yang marak dalam jejaring  sosial .

b. Bagi Pengguna bahasa Alay

Hasil penelitian ini diharapkan dapat   Alay digunakan dalam pergaulan agar berbahasa dengan baik dan benar terutama dikalangan para remaja.

 c. Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan inspirasi maupun bahan pijakan dan sebuah kontribusi pengetahuan tambahan bagi peneliti-peneliti selanjutnya tentang bahasa alay dalam jejaring sosial dikalangan remaja.

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Landasan Teori  

 

2.1.1 Pengertian Bahasa

Secara umum bahasa dapat didefinisikan sebagai lambang atau simbol. Pengertian lain dari bahasa adalah alat komunikasi yang dihasilkan oleh alat ucap pada manusia. Perludiketahui bahwa bahasa terdiri dari kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili kumpulan kata atau kosakata itu. Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitu saja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan,pikiran atau perasaan ita harus memiliki kata-kata yang tepat barulah kita mulai menyusunnya.

            Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.[5]

Bahasa pun mepunyai beberapa pengertian yang didefinisikan oleh para ahli, berikut ini mengenaipenjelasan pengertian dari beberapa ahli mengenai bahasa.         .
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001:88) Bahasa adalah sistem bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Menurut Carrol, Bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa, dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia. [6]

Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitusaja, melainkan mengikuti aturan yang ada.Untuk mengungkapkan gagasan, pikiran atau perasaan, kitaharus memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa. Seperangkataturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yangdisebut tata bahasa.

2.1.2 Makna Alay

Alay berasal dari kata Anak Layangan. Bahasa Alay bisa dikatakan bahasa kampungan, karena memang bahasa tersebut sungguh-sungguh tidak mengenal etika berbahasa dan biasanya yang bermain layangan adalah anak-anak kampung (orang kota juga sering, namun kota pinggiran). Apabila kalangan remaja mengunakan bahasa Alay secara tidak langsung telah melecehkan lawan bicara mereka baik secara tulisan  ataupun lisan Pada umumnya bahasa alay lebih  nampak dalam bentuk tulisan.

Alay, Alah lebay, Anak Layu, atau Anak kelayapan yang menghubungkannya dengananak Jarpul (Jarang Pulang). Tapi yang paling santera adalah anak layangan. Dominannya, istilah ini untuk menggambarkan anak yang sok  keren, secara fashion, karya (musik) maupun kelakuan secara umum.Konon asal usulnya, alay diartikan “anak kampong” karena anak kampung yang rata-rata berambut merah dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan.

Salah satu cirri dari alay tersebut adalah tulisannya yang aneh dan di luar nalar serta akal sehat. Di sini Penulis akan mengklasifikasikan alay-alay kebeberapa tingkatan atau strata menurut dari tulisan mereka (di sini saya bukan mau membahas alay dari wajah atau penampilannya, wajah adalah pemberian dari Tuhan yang merupakan anugerah untuk manusia. Kalau tulisan emang biasanya dibuat oleh para alay itu sendiri).

Tulisan gaya alay biasa dengan mudah ditemukan diblog dan forum di internet. Semua kata dan kalimat ‘dijungkir balikkan’ begitu saja dengan memadukan huruf dan angka.Penulisan gaya alay atau anak lebay tidak membutuhkan standar baku atau panduan khusus, semua dilakukan suka-suka dan bebas saja.Sepertinya inilah tren generasi alay.

Berikut adalah pengertian alay menurut beberapa ahli (WahyuAdi Putra Ginting, 2010):

Menurut definisi Koentjara Ningrat, Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah   gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya            (baca:   Pengguna internet sejati,kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar.[7]

2.1.3  Bahasa alay dalam jejaring sosial

Alay adalah singkatan dari Anak layangan, Alah lebay, Anak layu atau Anak kelayapan yang menghubungkannya dengan anak jarpul (Jarang Pulang). Tapi yang paling terkenal adalah Anak layangan.Dominannya,istilah ini menggambarkan anak yang menganggap dirinya keren secara gaya busananya.

Pesatnya perkembangan  teknologi dizaman modern ini ,penggunaan jejaring sosial lewat internet ini banyak diminati kalangan remaja. Jumlah pengguna bahasa Alay menunjukkan semakin akrabnya genersai muda Indonesia dengan dunia maya tersebut. Munculnya bahasa Alay juga menunjukkan adanya perkembangan zaman yang dinamis, karena suatu bahasa harus menyesuaikan dengan masyarakat penggunanya agar tetap eksis.

Akan tetapi, munculnya bahasa Alay juga merupakan sinyal ancaman yangsangat serius terhadap bahasa Indonesia dan pertanda semakin buruknya kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang. Dalam ilmu linguistik memang dikenal adanya beragam-ragam bahasa baku dan tidak baku. Bahasa baku biasnya digunakan dalm acara-acara yang kurang formal. Akan tetapi bahasa Alay merupakan bahasa gaul yang tidak mengindah.

Dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa Alay untuk generasi muda saat ini sudah sangat tidak mnegindahkan efesiensi, melainkan hanya sekedar trend belaka (Misbakhul Munir, Guru SD Al-Azhar Syifa Budi, Solo).Secara garis besar, mungkin karena salah pergaulan, maka yang merupakan ciri-ciri alay adalah sebagai berikut.

1.Pada account facebook atau friendster, bagi yang cewek di album fotonya memajang cowok-cowok ganteng meskipun tidak kenal supaya dianggap cantik dan gaul. Untuk yang cowok, majang foto cewek semua walau tidak kenal agar disangka cowok ganteng.

2.Suka ngirim ‘status’ tidak jelas di yahoo, Friendster ataufacebook :”akkoonlenndhdcnniih” ato “ayokk perang cummendh cmmasa iia”

3.Menganggap dirinya eksis di Friendster atau Facebook atau Multiply (kalau comments banyak berarti anak gaul, menjadi lomba banyak-banyakan comment)

4. Kalau ada org yang hanya melihat profil user di jejaring sosial,lalu mengirim testimonial: “hey cuman view nih?” ataau “heey jgn cuman view doang,add dong!

6.Nama profil jejaring social mengagung-agungkan diria sendiri, seperti: pRinceSscuTez, sHaluccU, cAntieqq, dan lain-lain.

Dari ciri-ciri diatas,dapat diketahui bahwa bahasa alay sudah berkembang pesat dijejaring sosial terutama facebook dan twitter.

2.1.4  Bahasa alay dalam jejaring sosial yang marak dikalangan remaja

Bahasa gaul adalah dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk pergaulan (KBBI, 2008: 116). Bahasa gaul identik dengan bahasa percakapan (lisan). Bahasa gaul muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan teknologi komunikasi dan situs-situs jejaring social. Bahasa gaul pada umumnya digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja sekelompoknya selama kurun tertentu. Hal ini dikarenakan, remaja memiliki bahasa tersendiri dalam mengungkapkan ekspresi diri. Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Masa remaja memiliki karakteristik antara lain petualangan, pengelompokan, dan kenakalan. Ciri ini tercermin juga dalam bahasa mereka. Keinginan untuk membuat kelompok eksklusif menyebabkan mereka menciptakan bahasa rahasia (Sumarsana dan Partana, 2002:150).

Menurut Owen (dalam Papalia: 2004) remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan metafora, ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat mereka. Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak dikenal dengan istilah           bahasa gaul.
Di samping merupakan bagian dari proses perkembangan kognitif, munculnya penggunaan bahasa gaul juga merupakan ciri dari perkembangan psikososial remaja.

Menurut Erikson (1968), remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa[8]

2.2 METODE PENELITIAN

 

2.2.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian kualitatif adalah Metode penelitian tidak didesain atau dirancang mengunakan prosedur-prosedur statistic.[9]Penelitian ini bersifat umum  belum  berfokus ,sehingga kondisi yang dihadapi dilapangan ,tidak menggambarkan variabel-variabel secara eksplisit. Berdasarkan buku berjudul  Metode  Penelitian  Kualitatif: Panduan Field Collector data terdiri dari pedoman untuk mengumpulkan dan menyelidiki data:
1.Mencari menjawab pertanyaan
2. Sistematis menggunakan satu  sestandar  prosedur untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan.
3.Mengumpulkan bukti.
4.Menghasilkan temuan yang  tidak ditentukan dimuka.
5. Menghasilkan sesuatu yang berlaku di luar batas-batas langsung dari penelitian

2.3 Sumber data

2.3.1 Metode Pengumpulan Data

Menurut Nawawi (1991:30) bahwa jika dilihat dari tempat penelitian dilakukan, penelitian ini terdiri dari tiga bagian, yaitu, Laboratorium Penelitian, Penelitian Perpustakaan, dan Penelitian Lapangan. Dalam tesis ini, peneliti menggunakan studi kepustakaan. Yang dimaksud dengan studi kepustakaan adalah teknik pustaka dengan mengunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Sumber-sumber tertulis itu  bisa berwujud majalah,surat kabar,karya sastra,buku bacaan umum,karya ilmiah ,dan buku perundang-undangan.[10]

2.3.2 Metode Analisis Data

Analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah deduktif yang berarti bahwa peneliti mengembangkan teori berdasarkan data yang telah dikumpulkan peneliti. Susunan paragraf juga mengalir dari umum ke yang khusus.Peneliti menganalisis maraknya bahasa alay dalam jejaring sosial dikalangan remaja  dan menemukan data berdasarkan  Teknik Analisa Data.Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis model interaktif (Interactive Model of Analysis). Menurut Miles dan Huberman (1992:16) dalam model ini tiga komponen analisis, yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan, dilakukan dengan bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data (data collecting) sebagai suatu siklus. Ketiga kegiatan dalam analisis model interaktif dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Reduksi data (data reduction) .Diartikan sebagai  Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data.

2) Penyajian data (data display)

Diartikan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan penyajian data, peneliti akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan berdasarkan pemahaman tentang penyajian data.

3) Penarikan kesimpulan (conclusion drawing)

Kesimpulan yang diambil akan ditangani secara longgar dan tetap terbuka sehingga kesimpulan yang semula belum jelas, kemudian akan meningkat menjadi lebih rinci . Kesimpulan ini juga diverifikasi selama penelitian berlangsungdengan maksud-maksud menguji kebenaran, kekokohan dan kecocokannya yang merupakan validitasnya.[11]

2.4 Kajian Pustaka

Berdasarkan Penulusuran ,terdapat beberapa penelitian atau pustaka yang dapat dijadikan pembanding maupun pendukung untuk penelitian ini.

Penelitian yang pertama dalam karya ilmiah yang berjudul “Tinjauan sosiolinguistik bahasa alay dalam konstelasi kebahasaan saat ini “dilakukan oleh Andri Wicaksono . Penelitian ini memaparkan tentang wujud pemakaian bahasa Alay dalam pergaulan dan hal-hal yang melatar belakangi pemakaian bahasa alay  serta kalangan pendidik hendaknya tidak perlu gelisah berlebihan karena menganggap perkembangan “Bahasa Alay” dapat merusak bahasa indonesia. Bahasa alay yang banyak digunakan oleh generasi muda Indonesia hanya mempunyai syarat mengancam dan merusak bahasa Indonesia apabila digunakan pada media yang tidak pada tempatnya.[12]

Penelitian yang kedua menurut Apriyana dalam karya ilmiahnya  yang berjudul “Pengaruh Bahasa Gaul Remaja Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia” menyatakan :” Dewasa ini pemakaian bahasa Indonesia baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia film mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa anak remaja yang dikenal dengan bahasa gaul. Interferensi bahasa gaul kadang muncul dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi resmi yang mengakibatkan penggunaan bahasa tidak baik dan tidak benar. Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.”[13]

Penelitian yang akan dilakukan ini memiliki persamaan dengan pelitian-penelitian diatas dalam hal topik besar yang mengangkat tentang bahasa alay.Akan tetapi,penelitian ini berbeda dalam beberapa hal:

pertama,penelitian ini akan terfokus pada hal-hal yang melatarbelakangi maraknya bahasa alay dalam jejaring sosial yang  berkembang pada kalangan remaja .

kedua ,pendekatan yang diambil tentang bahasa alay ini adalah pengaruh bahasa alay dalam jejaring sosial terhadap tata bahasa dikalangan remaja .

ketiga ,penelitian ini hendaknya menunjukan bagaimana wujud bahasa yang mengandung elemen bahasa alay itu sendiri sehingga dapat mempengaruhi para penuturnya dalam bertutur kata.

 

 

 

 

 

2.5 Pembahasan Masalah

2.5.1 Analisa Masalah

  1.Hal-hal apa sajakah yang melatarbelakangi munculnya bahasa alay dalam  jejaring sosial?

Penggunaan bahasa di dunia maya dan jejaring sosial inilah yang patut mendapat perhatian para praktisi dan pemerhati bahasa. Apalagi di tengah kemunculan fenomena “bahasa alay” yang makin merasuk di kalangan remaja. Dukungan kecanggihan teknologi telah menjadikan bahasa dalam segala bentuknya mengalami kemajuan varian yang sangat pesat. Bagaimana tidak? Fakta bahwa pengguna internet di Indonesia hingga tahun 2012 ini telah mencapai 63 juta orang (Okezone, 12 Desember 2012) atau naik 300% dalam 5 tahun terakhir. Kondisi ini diperkuat dengan adanya 29 juta orang meng-akses internet secara mobile sebagai tanda tingkat produktivitas pemakaian bahasa pemakainya. Proyeksi ini akan terus berkembang hingga mencapai 80 juta orang pada tahun 2014. Di sisi lain, data Kominfo April 2012 menyebutkan jumlah pengguna jejaring sosial di Indonesia juga sangat besar. Setidaknya tercatat sebanyak 44,6 juta pengguna Facebook dan sebanyak 19,5 juta pengguna Twitter di Indonesia. Kondisi ini bertolak belakang dengan kenyataan adanya 15 bahasa daerah yang sudah punah dan 139 bahasa daerah yang terancam punah dari 726 bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Perkembangan teknologi begitu cepat dan dahsyat, manusia selalu mencari cara berkomunikasi yang cepat, murah dan praktis. Hanya dalam hitungan detik, kita dapat terhubung ke seluruh penjuru dunia tanpa batas ruang dan waktu. Inilah yang dinamakan dunia maya. Kita dapat dengan mudah beranjang sana kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun asalkan memiliki dukungan teknologi yang dibutuhkan dan terkoneksi ke berbagai penjuru dunia tersebut. Jika saja teknologi mampu “bergerak cepat”, bagaimana bahasa mengantisipasinya?

Berlatar pada kondisi itulah, kita perlu berdiskusi dan menentukan sikap terhadap fenomena bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial yang semakin mengglobal. Bagaimana kita memandang bahasa pada dunia maya dan jejaring sosial; ancaman atau peluang?

               Bahasa Indonesia adalah salah satu aset penting bangsa Indonesia. Kenapa? Karena Bahasa Indonesia merupakan satu-satunya bahasa resmi yang membantu berbagai suku di Indonesia untuk berkomunikasi secara baik (Mustakim, 1994 : 2). Namun Bahasa Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang berat seiring intervensi dan realitas penggunaan bahasa pada dunia maya atau jejaring sosial yang bertolak belakang dengan prinsip penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. [14]

                         Apalagi bahasa pada dunia maya atau jejaring sosial semakin mendapat tempat di kalangan anak muda. Sebut saja, fenomena “bahasa alay” yang benar-benar sudah menjadi bahasa favorit mereka daripada Bahasa Indonesia itu sendiri. Hal ini terjadi karena anak muda sekarang membutuhkan pengakuan akan eksistensi mereka. Mereka hampir tidak punya ruang untuk mewujudkan eksistensi mereka. Jadi, anak muda yang tidak memakai bahasa alay maka tidak disebut anak gaul, dan status sosial seseoranglah yang paling mempengaruhi penggunaan bahasa itu sendiri (Meyerhofff, 2006:108).

                          Saat ini kata ciyus, miapah, dan cemungudh sudah semakin populer. Kata-kata alay atau gaul ini juga sangat populer di dunia maya khususnya di situs jejaring sosial. Tapi, apa sih yang menyebabkan kata ciyus miapah jadi populer?

Menurut pengamat bahasa dari Universitas Diponegoro Semarang, Mujid Farihul Amin, ada dua penyebab kata gaul itu jadi populer. Penyebab pertamanya adalah karena keberadaan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter.

“Komunikasi di sosial media yang bebas jadi penyebab munculnya ragam bahasa alay ini,” kata Mujid seperti dikutip dari Tempo.

Di sosial media, jelas Mujid, penggunaan bahasa tidak terikat pada suatu peraturan. Itulah sebabnya anak muda banyak berkreasi dengan bahasa sehingga muncul kata alay. Semakin banyak orang yang penasaran dengan artinya, maka semakin banyak yang menggunakan kata alay ini.

 Itulah penyebab kata ciyus, miapah, dan kata alay lainnya menjadi populer. Ternyata, sosial media memiliki peran yang sangat besar dalam merubah budaya berbahasa seseorang termasuk bahasa alay.

 2.Bagaimana tanggapan masyarakat tehadap bahasa alay yang marak dalam jejaring sosial  dikalangan remaja ?

Penggunaan bahasa alay akhir-akhir ini, tentu saja mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan bahasa tersebut tidak sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar Penggunaan bahasa alay dalam jejaring sosial  mempunyai pengaruh negatif  apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. Walaupun istilah alay ini sudah dikenal di masyarakat luas dengan arti “orang norak”, tetapi hingga saat ini bahasa alay tersebut masih banyak digunakan oleh para remaja untuk menulis dalam facebook atau twitter. Beberapa kata yang sering dijumpai dalam “status” para pengguna jejaring sosial, misalnya, kata gue. Kini, untuk menyatakan kata saya para penutur bahasa gaul juga menggunakan kata saiia, aq, q, ak, gw, gua, w, akoh, aqoh, aqu, dan ane. Kemudian, kata Lo atau Lu sama seperti kata gue. Kini, untuk menyatakan kamu penutur bahasa gaul juga menggunakan lw, elu, elo, dan ente.

Hal ini dikarenakan oleh beberapa penyebab antara lain sebagai berikut ini :
1.Masyarakat Indonesia kurang mengenal bahasa baku yang baik dan benar.
2. Kurangnya masyarakat Indonesia  dalam memakai lagi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
3. Masyarakat Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya karena merasa dirinya telah menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar.[15]

Jika hal ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan menghilangkan budaya berbahasa Indonesia dikalangan remaja bahkan dikalangan remaja . Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara kita dan juga sebagai identitas bangsa. Untuk itulah, kita sebagai generasi muda, harus cermat dalam memilih serta mengikuti trend yang ada. Salah satu masyarakat mengungkapkan bahwa Janganlah bahasa tersebut  sampai merusak budaya bahasa kita sendiri dengan keberadaan bahasa alay didalam jejaring sosial. Sehingga perlu diwaspadai kepada para masyarakat terutama orang tua untuk slalu mengawasi anak-anak mereka terutama para remaja yang lagi pada gila facebook atau twitter ,agar memperingatkan kepada anaknya untuk tidak mengunakan bahasa alay dalam situasi formal karena nanti akan mempengaruhi keberadaan bahasa indonesia yang cenderung kurang baik dan benar.Sebaiknya bahasa alay digunakan pada situasi  yang tidak formal ,hal itu mungkin bisa ditoleransi asal tidak merusak tata bahasa indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 3.1Kesimpulan

Tata bahasa indonesia pada saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia khususnya para remaja, sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai kreativitas . Jika mereka tidak menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Salah satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya adalah digunakannya bahasa Alay. Sehingga banyak aspek yang harus segera diperbaiki dan dibenahi.

Bahasa Alay secara langsung maupun tidak telah mengubah masyarakat Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Menurut Pak Sahala, “Tiap generasi atau masa selalu muncul bahasa sandi yang berlaku dalam suatu komunitas kecil atau besar. Bahasa sandi suatu komunitas bisa berumur pendek, tetapi bisa juga berumur panjang.”

            3.2 Saran

Sebaiknya bahasa Alay dipergunakan pada situasi yang tidak formal seperti ketika kita sedang berbicara dengan teman. Atau  pada komunitas yang mengerti dengan sandi bahasa Alay tersebut. Kita boleh menggunakannya, akan tetapi jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi kenegaraan dan lambang dari identitas nasional, yang kedudukannya tercantum dalam Sumpah Pemuda dan UUD 1945 Pasal 36 sebagai bahasa Pesatuan bahasa Indonesia.

Sebenarnya sah-sah saja bagi mereka (terutama remaja) yang menggunakan bahasa alay, karena hal tersebut merupakan bentuk kreatifitas yang mereka buat. Namun sebaiknya penggunaan bahasa alay dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi atau tidak digunakan pada situasi-situasi yang formal. Misalnya pada saat berbicara dengan teman. Teman disini adalah mereka yang mengetahui dan mengerti bahasa alay tersebut. Tetapi juga jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia kita. Karena biar bagaimanapun bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa kebanggaan kita dan wajib untuk dijaga serta dilestarikan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anjoyo,Muhammad. “Pengaruh bahasa gaul dalam perkembangan bahasa indonesia” http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/04 (diunduh pada 06 januari 2013 )

Anwarul,andri. “Makalah Pengaruh Bahasa Gaul Dalam Perkembangan Bahasa Indonesia “.electroh3ll.blogspot.com/2012/11/makalah-pengaruh-bahasa-gaul-dalam.html. ( diunduh pada 11 februari 2013 )

Apriyana,” Pengaruh Bahasa Gaul Remaja Dalam Perkembangan Bahasa Indonesia” dala http://apriyanaodih.blogspot.com/2011/04( diunduh pada 7 januari 2013 )

Azis,Firman.”Makalah-Penggunaan-Bahasa-Gaul-Mempengaruhi-Eksistensi-Bahasa-Indonesia”“http://www.slideshare.net/riskia-chandra/ (diunduh pada 3 januari 2012)

Chaer,Abdul dan Leonie Agustina. Sosiolinguistik Perkenalan Awal .Jakarta: Rineka Cipta, 2010

Hutosoit,Nella.”Pengertian Bahasa“.(http://nellahutasoit.wordpress.com/2012/04/22/ ) diakses pada 07 januari 2013

Karyono, “Thesis Metode Penelitian” http://karyono1993.wordpress.com/thesis/metode-penelitian/( diunduh  pada 08 januari 2013 )

Salamah,nur.”Penggunaan bahasa dalam Pers dalam media “http://salmah-semangat.blogspot.com/2010/04/penggunaan-bahasa-pers-dalam-media.html(diunduh 7 januari 2013 )

Muhsin,Syaikh.Abdul.”Menjaga-lisan-agar-selalu-berbicara-baik”http.file:///C:/Users/Public/Documentsdiakses pada 6 januari 2013

Samsuri. Analis Bahasa .Jakarta : Erlangga ,1987

Subroto, Edi. Pengantar Metode penelitian Linguistik Struktural.cet.1 .Surakarta : UNS Press,2007

Wicaksono,andri.” Tinjauan sosiolinguistik bahasa alay dalam konstelasi kebahasaan saat ini“http://andriew.blogspot.com/2011/02 ,diakses pada 6 januari 2013

Wulandari,Linda.S.“Penggunaan-bahasa-alay-dalam-jejaring-sosial-”http://bahasa.kompasiana.com/2012/09/05 (diunduh pada 3 januari 2013)

Yunus ,syarifudin.” Bahasa Indonesia Pada Dunia Maya & Jejaring Sosial; Ancaman atau Peluang?”http://bahasa.kompasiana.com/2012/12/21 ( diunduh pada 11 februari 2013 )


[1]Wulandari,Linda.S.“Penggunaan bahasa alay dalam jejaring sosial”http://bahasa.kompasiana.com/2012/09/05 (diunduh pada 3 januari 2012)

2 Samsuri,Analisis  Bahasa,hal.4

[3]Azis,Firman.”Makalah-Penggunaan-Bahasa-Gaul-Mempengaruhi-Eksistensi-Bahasa-Indonesia”“http://www.slideshare.net/riskia-chandra/ (diunduhpada 3 januari 2012)

 

[4]Syaikh abdul M.”Menjaga-lisan-agar-selalu-berbicara-baik”http.file:///C:/Users/Public/Documents“diakses pada 6 januari 2013

 

5Nella,Husoit.”Pengertian Bahasa “.(http://nellahutasoit.wordpress.com/2012/04/22/ ) diakses pada 07 januari 201

6Salamah,nur.”Penggunaan-bahasa-dalam-Pers-dalam-media-“http://salmahsemangat.blogspot.com/2010/04/penggunaan-bahasa-pers-dalam-media.html ( diunduh7 januari 2013 )

 

[7]Ristika,Irni.” Pengaruh Bahasa Gaul dalam Perkembangan Bahasa Indonesia”, http://theniesland.blogspot.com/2011/03/diakses (08 januari 2013 )

 

[8]Muhammad,Atqo.“perkembangan-bahasa-gaul-di-indonesia’’http://atqomohammed.blogspot.com/2010/03/(diunduh pada 09 januari 2013 )

[9]Subroto,Edi .Pengantar Metode penelitian Linguistik Struktural,hal 5

[10]Ibid,hal 47-48

[11]karyono, “Thesis Metode Penelitian” http://karyono1993.wordpress.com/thesis/metode-penelitian/( diunduh pada 08  januari 2013

12Wicaksono,andri.”Tinjauan sosiolinguistik bahasa alay dalam konstelasi kebahasaan saat ini“http://andriew.blogspot.com/2011/02 ,diakses pada 6 januari 2013

13Apriyana,”Pengaruh Bahasa Gaul Remaja Dalam Perkembangan Bahasa Indonesia” dalam http://apriyanaodih.blogspot.com/2011/04( diunduh pada 7 januari 2013 )

 

[14]  Yunus ,syarifudin.” Bahasa Indonesia Pada Dunia Maya & Jejaring Sosial; Ancaman atau Peluang?”http://bahasa.kompasiana.com/2012/12/21 ( diunduh pada 11 februari 2013 )

[15]Anwarul,andri. “Makalah Pengaruh Bahasa Gaul Dalam Perkembangan Bahasa Indonesia “.electroh3ll.blogspot.com/2012/11/makalah-pengaruh-bahasa-gaul-dalam.html. ( diunduh pada 11 februari 2013 )

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Contact

085725306615
Jam Kerja :
08.00 - 17.00
Flag Counter
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: